TINGKAT KEMATANGAN GONAD

Pemijahan
Pemijahan ikan untuk proses pembuahan telurnya ada yang berlangsung secara internal dan eksternal.  Ikan hias ada yang bertelur dan ada yang beranak.  Perlakuan proses pemijahan berbeda tergantung jenis ikannya.  Oleh karena itu harus disiapkan media, bahan, alat yang diperlukan dalam proses pemijahan.  Tidak semua ikan hias dapat melakukan pemijahan secara alami. Untuk membudidayakan ikan hias yang tidak bisa memijah secara alami dapat dilakukan dengan cara menyuntikkan hormon perangsang (induced spawning) agar bisa memijah baik secara alami atau melalui pengurutan (stripping).  Perlu diketahui untuk membudidayakan ikan hias sebaiknya hindari pemijahan satu keturunan (inbreeding).

Penetasan Telur
Telur akan menetas tergantung dari jenis ikannya.  Biasanya telur akan menetas setelah 24 jam menjadi larva.  Penetasan (inkubasi) telur dapat dilakukan di akuarium,kolam permanen, corong dan happa.  Dalam proses penetasan ada yang dilakukan dengan cara diangkat induk secara keseluruhan  atau ada yang induknya ditinggal salah satunya.  Proses penetasan telur ada yang memerlukan aerasi dan ada yang tidak.

Perawatan Larva hingga Pembesaran
Telur yang sudah menjadi larva akan mulai berenang kesana-kemari.  Larva ikan dapat ditempatkan dalam akuarium, hapa, kolam bak, bak plastik, fiber glass dan kolam tanah serta wadah lainnya.
Selama mulai menetas sampai umur ± seminggu larva tidak perlu diberi makan karena masih membawa cadangan makanan berupa kuning telur (yolksack).  Setelah seminggu sudah mulai diberikan makanan berupa infusoria, kutu air atau artemia, cacing sutera atau jenis makanan lainnya baik dari pakan alami atau buatan yang ukurannya lebih kecil dari mulut larva.  Setelah ikan berukuran benih dan mulai besar pakan yang diberikan berupa kutu air, jentik nyamuk, cacing sutera, serangga, kodok, ikan hidup/mati atau pellet.  Pemberian pakan yang umum dilakukan 2 kali sehari yaitu pagi dan sore.
Kepadatan penebaran benih ikan harus disesuaikan dengan luasan media budidaya, jangan terlalu padat atau terlalu jarang.  Bila terlalu padat menyebabkan pertumbuhan ikan lambat dan jika jarang tidak efisien penggunaan media budidaya (pemborosan).
Air yang menjadi tempat benih ikan hidup, akan mengalami penurunan kualitas yaitu air menjadi kotor akibat sisa makanan dan kotoran ikan.  Oleh karena itu diperlukan pembersihan air (penyiponan).  Caranya dengan membuka pipa pembuangan atau menyedotnya.  Air yang dibuang tidak semuanya, maksimal ¾ bagiannya.  Setelah itu diisi kembali dengan air yang sudah diendapkan sebelumnya jangan air baru. Makanya para pembudidaya harus memiliki tendon air agar dapat melakukan penyiponan kapan saja.  Frekuensi penyiponan air semakin sering semakin baik dan paling lambat sekali seminggu.
Ikan-ikan yang terawat akan mengalami pertumbuhan.  Pertumbuhan dan perkembanga ikan biasanya tidak seragam.  Ada yang besar lebih dahulu, normal dan ada yang bantet (kontet).  Untuk itu perlu dilakukan penyortiran dan pedederan ikan.  Ikan-ikan yang berukuran seragam dikelompokkan berdasarkan ukuran agar pertumbuhannya seragam.  Setelah dilakukan pendederan ini perlu dilakukan pendederan selanjutnya.  Antara anakan jantan dan betina harus disortir dan dipisahkan untuk menghindari pemijahan dini he….supaya pertuumbuhan ikan normal dan untuk menyiapkan calon indukan.
Lama proses pemeliharaan ikan hias sampai ikan siap jual tergantung  pada jenis ikannya.  Pada umur 1-2 bulan biasanya ikan sudah berukuran 1-2 inci. Jadi dapat diukur pertumbuhan ikan dan kapan ikan itu bisa dijual tergantung pada  jenis dan ukurannya. Ikan hias bisa dipasarkan kapan saja tergantung dari kebutuhan pembudidayanya.

Pemeriksaan gonad

Pemeriksaan jenis kelamin dalam budidaya sangatlah penting. Karena hal tersebut menentukan dalam proses-proses selanjutnya dalam kegiatan budidaya, termasuk dalam merekayasa utnuk mendapatkan produksi ikan yang maksimum. Selain itu, identifikasi dan pembedaan jenis kelamin ini dapat digunakan untuk menguji hasil ginogenesis dan androgenesis.
Teknik pembedaan jenis kelamin dapat dilakukan dengan pewarnaan gonad menggunakan larutan asetokarmin. Larutan ini berfungsi untuk memudahkan identifikasi gonad ikan. Metoda ini memiliki beberapa kelebihan antara lain praktis, mudah, tidak perlu peralatan khusus dan relatif murah. Identifikasi gonad untuk ikan dewasa dapat dilakukan dengan mudah karena ukuran gonad yang relatif besar, namun untuk ikan kecil biasanya harus melalui metoda khusus. Penentuan jenis kelamin dipengaruhi oleh dua faktor yaitu lingkungandangenetis.

Menurut Ronaldson dan Hunter, (1987) dalam Hendriana, (2006) perkembangan gonad atau oogenesis ialah transformasi oogonia menjadi oosit. Komponen utama oosit berasal dari senyawa vitelogenin berbobot tinggi berasal dari darah yang disintesis dalam hati.
Secara garis besar gonad dibagi menjadi dua tahap, yaitu tahap pertumbuhan gonad dan tahap pematangan gonad (Lagler et al., 1977 dalam Khum 1998). Dalam pertumbuhan gonad ini dapat ditentukan ciri-ciri gonad jantan dan betina secara hihistologis. Gonad betina atau ovarium berbentuk bulat dan oval. Di dalam lamella terdapat septa sebagai penunjang sitoplasma lebih tebal dan terdapat beberapa nukleus. Warna gonad kekuningan dan memiliki ukuran gonad lebih besar dari gonad jantan. Sedangkan gonad jantan didomonasi jaringan ikat dan terdapat tubulus seminifer. Gonad jantan berukuran lebih kecil dan menyebar merata serta berwarna lebih putih dari gonad betina (Syandri, 1996dalamKham1998).
Penentuan tingkat kematangan gonad dapat dilakukan secara morfologis dan histologis. Tingkat secara morfologis dilihat dari bentuk, panjang, berat dan warna serta perkembangan gonad melalui fase perkembangan gonad (Effendie, 1997 dalam Siregar, 1999).
Perbedaan jenis kelamin ditentukan oleh faktor dalam dan luar. Faktor dalam berupa jenis kelamin dan hormon sedangkan faktor luar ditentukan oleh suhu, pakan, intensitas cahaya, pH, nitrogen dan metabolitnya, alkalinitas, kesadahan, dan zat buanganyang berbahaya bagi kehidupan ikan. Faktor luar yang sering dilakukan untuk menentukan jenis kelamin ikan dalam budidaya adalah pakan (Watanabe, 1984 dalam Kham, 1998). Kualitas pakan yang diberikan pada induk ikan akan mempengaruhi fekunditas, daya tetas telur dan kelangsungan hidup larva. Faktor lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap penentuan jenis kelamin adalah suhu. Suhu tinggi membuat masa sensitive ikan lebih cepat terjadi. Ini berarti ikan lebih senag memijah pada suhu tinggi. Suhu juga mempengaruhi baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap diferensiasi kelamin.(SmithetaldalamBarmudi,2005).
Menurt Nikolsky (1963) dalam Atmaja (2005) akibat adanya perbedaan kecepatan pertumbuhan, maka ikan-ikan muda yang berasal dari telur yang menetas pada waktu yang bersamaam akan mencapai tingkat kematangan gonad pada umur yang berlainan. Ukuran ikan jika pertama kali matang gonad tidak selalu sama, disebabkan antara lain oleh suhu air dan dan ketersediaan pakan (Effendie, 1997 dalam Atmaja, 2005).